Marantau Cino Kontraproduktif Dalam Budaya Minangkabau


Ada banyak pendapat mengenai pusako, sehingga menyebabkan kesalahpahaman dalam pandangan mengenai hak waris. Dimana meletakan pusako tingggi dengan pusako randah terjadi kekeliruan pemahaman oleh anak salingka nagari di ranah minangkabau maupun di perantauan. Hal ini juga yang menjadi penyebab fenomena marantau cino dalam budaya minangkabau.

Berikut penjabaran defenisi pusako dalam khazanah adat budaya minangkabau

A. Pusako randah
Pusako randah adalah pencaharian yang asalnya dari hasil pusako tinggi. Pada defenisinya, harta pusako randah bisa menjadi pusako tinggi apabila sudah mencapai 3 generasi.

Sedang harta suami istri dalam sebuah keluarga baik di minangkabau atau pun diperantauan disebut harta faraidh (bukan pusako randah) yang hukum warisnya sesuai dengan ajaran syariat islam.

Orang-orang yang memiliki harta tersebut mewakafnya untuk generasi penerus. Sebagai contoh seorang nenek yang memiliki sebidang tanah dapat mewariskan tanah tersebut untuk menjadi ulayat anak cucunya sehingga bisa dipergunakan oleh kaum tersebut sehingga menjadi pusako tinggi.

B. Pusako tinggi
Pusako tinggi adalah harta kaum  yang diwariskan dari nenek moyang untuk generasi penerus yang berbentuk properti seperti rumah, tanah, sawah, ladang dimana berasal dari generasi sebelumnya (nenek moyang) yang dimanfaatkan untuk generasi penerus kaum tersebut agar dapat dipergunakan sebaik-baiknya untuk kelangsungan hidup kaum.

Pewarisan hak ulayat/pusako tinggi kaum tidak pernah berpindah sesuai dengan hukum wakaf dalam ajaran islam. Dalam pola budaya minangkabau kelangsungan kaum menurut garis perempuan karena perempuanlah yang tetap tinggal pada kaum tersebut. Dari nenek ke ibu, dari ibu ke anak perempuan, dari anak perempuan ke cucu perempuan dan seterusnya, yang lazim disebut pola matrilineal.

Maka sesuai hukum islam pula, suatu harta wakaf sama seperti harta pusako tinggi, tidak bisa diperjual-belikan & diwariskan pada pihak-pihak tertentu. Hukum wakaf sama dengan amal jariyah. Sesuai dengan jenis amalnya maka berwakaf bukan sekedar berderma (sedekah) biasa, tetapi lebih besar pahala dan manfaatnya terhadap orang yang berwakaf. Hukum waqaf adalah sunah. Ditegaskan dalam hadits:

اِذَا مَاتَ ابْنَ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْ عِلْمٍ يَنْتَفَعُ بِهِ اَوْ وَلَدِ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ (رواه مسلم)

“Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga (macam), yaitu sedekah jariyah (yang mengalir terus), ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shaleh yang mendoakannya.” (HR Muslim)

Karena itu kaum sebagai pemilik pusako tinggi yaitu tanah ulayat hanya bisa menggadaikan harta tersebut, yang mana kegunaannya sebagai gadai untuk kemaslahatan kaum tersebut. Ada berapa syarat menurut budaya minangkabau apabila pusako hendak digadaikan :

  1. Rumah gadang katirisan
    Keberadaan rumah gadang bagi masyarakat minangkabau sangat penting sekali. Karena rumah gadang adalah identitas sosial yang menjadi ciri bahwa mereka adalah penduduk asli suatu Nagari. Oleh karena itu apabila tidak ada biaya untuk renovasi rumah gadang, maka Pusako Tinggi dapat digadaikan.
  2. Mayiek tabujua di tangah rumah.
    Hal ini disebabkan tidak adanya biaya untuk melakukan penguburan terhadap dunsanak yang berpulang kerahmatullah. Namun sejak lama bisa diantisipasi dengan adanya fungsi surau dalam menjaga fardu kifayah, sehingga faktor ini sangat minim terjadi di minangkabau.
  3. Gadih gadang indak balaki
    Garis keturunan sako diturunkan dari pihak perempuan. Hal ini berlangsung turun temurun sehingga dapat berkembang biak menjaga kelangsungan kaum tersebut. Apabila ada perempuan yang sudah berumur belum berkeluarga dan tidak terdapat biaya untuk mencarilkan suami maka pusako bisa digadaikan.
  4. Adaik jo pusako indak tagak (Mambangkik batang tarandam)
    Keberlangsungan kaum terletak pada peran penghulu yang memimpin anak kamanakan. Dalam sistem banagari keberadaan suatu kaum diwakili oleh penghulu. Hal-hal yang akan dimusyawarahkan pada limbago adat nagari mengenai kepentingan kaum diwakili oleh ninik mamak penghulu kaum sebagai salah satu unsur tigo tungku sajarangan. Apabila tidak terdapat penghulu pada kaum tersebut, akan memberikan kerugian pada kaum, dimana keterwakilan kaum pada limbago adat nagari tidak ada.

C. Sako

Sako adalah warisan yang tidak berwujud benda ( immaterial ) tetapi sangat berperan dalam membentuk moralitas masayarakat minangkabau dan kelestarian adat budaya minangkabau.
Yang termasuk Sako adalah :

  • Gelar penghulu (gelar kebesaran).
  • Garis keturunan (suku) diwariskan secara turun temurun kepada anak perempuan (matrilineal).
  • Pepatah-petitih dan Hukum Adat.
  • Tata krama dan adat sopan santun.

Setiap perempuan yang bersuku piliang maka seluruh anak – anaknya baik laki-laki maupun perempuan bersuku piliang . Namun si anak laki-laki tidak bisa mewariskan sako kepada anak keturunannya, sedangkan anak perempuan akan tetap menurunkan sako pada keturunannya.

Begitu juga dengan pusako, dari ibu/mandeh diturunkan kepada seluruh anak laki-laki maupun anak perempuan agar dapat digunakan sebaik-baiknya untuk kelangsungan hidup akan kebutuhan nafkah sehari-hari, pendidikan & kesehatan.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah laki-laki bisa menggunakan pusako tinggi ketika bujang & ketika sudah berkeluarga? Jawabanya adalah bisa, namun seperti juga sako, laki-laki tidak bisa mewariskan pusako tinggi kepada tidak bisa diwariskan kepada keturunannya.

Disinilah letak kesalahpahamannya selama ini , bahwa laki-laki di minangkabau sebenarnya juga berhak terhadap pusako tinggi, dapat mengolah pusako, memberi nafkah anak & istri dari hasil pusako tinggi. Namun tidak bisa mewariskan kepada keturunannya seperti perempuan minang yang bisa terus mewariskan pusako & sako kepada anak keturunannya.

Pada prakteknya laki-laki diranah minang jarang yang ada mengolah pusako tinggi kaumnya. Hal ini karenakan istri dari laki-laki tersebut juga memiliki pusako tinggi pada kaumnya. Sehingga untuk menafkahi anak & istri laki-laki di minangkabau cukup dengan mengolah pusako tinggi dari pihak istrinya.

Mengapa demikian? karena alam takambang manjadi guru, dimana ada hak tentu ada kewajiban, dimana ada betina tentu ada jantannya, karena Allah SWT telah menjadi kehidupan ini berpasang-pasangan.

Laki-laki di ranah minang memiliki tanggung jawab menjaga sako & pusako, membimbing anak kamanakan, manjago nagari jan binaso, memimpin kaum untuk kemaslahatan nagari. Dalam konteks masa lampau, dimana perkawinan laki-laki di minangkabau untuk memilih istri tidak terlalu berjauhan dengan kampung halamannya.

Namun bila ditinjau pada konteks saat ini, perkawinan bisa berlangsung pada nagari yang berjauhan. Bisa saja pihak laki-laki berasal dari Lubuk Sikaping Pasaman, sedang pihak perempuan berasal dari Balai Salasa Pesisir Selatan. Terkadang banyak didapati laki-laki di minangkabau menikahi perempuan yang bukan berasal dari minangkabau. Kalau alasan hanya perempuan yang bisa menggunakan pusako tinggi, bagaimana laki-laki tersebut bisa melaksanakan fungsinya sebagai mamak? sebagai Penghulu?

Karena kebudayaan selalu bersifat dinamis, berubah seiring zaman, seiring kemajuan. Sedang yang disebut ” Indak lakang di nan paneh, indak lapuak di nan hujan adalah adat sabana adat yaitu ajaran agama islam yang bersumber pada Al Quran & Sunah Rasullullah SAW. Dimana Allah SWT telah berfirman :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

(15 : 9) Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya

Dengan begitu bagaimana cara membagi hak pakai/hak olah dalam pusako tinggi, hal itu dimusyawarahkan oleh seluruh keluarga yang terdapat di dalam kaum. Untuk itu pula agar mencegah terjadi perselisihan pada keluarga-keluarga dalam suatu kaum ditunjuklah seorang laki-laki dari kaum tersebut untuk mengatur secara adil yang disebut <b>Penghulu</b>, dengan bimbingan dari penghulu sehingga bisa adil & merata pada masing-masing keluarga.

Kerancuan yang selama ini terjadi adalah menganggap bahwa laki-laki tidak memiliki hak sama sekali atas pusako tinggi, hanya memiliki kewajiban menjaga pusako tinggi. Sehingga membawa kerugian terhadap keberlangsungan kaum tersebut dengan banyaknya laki-laki minang yang merantau dan tidak pernah kembali ke kampung halaman, karena sifat yang berat sebelah, memiliki kwajiban namun tidak berhak atas pusako tinggi. Apabila ini diteruskan, maka hukumnya laki-laki di ranah minang tidak boleh memakan hidangan yang disajikan keluarganya apabila berkunjung ke kampung halaman, kerena dia tidak berhak atas hasil dari pusako tinggi tersebut.

Baa lo kok taka itu? dima lo latak karugian bagi budaya minang dek marantau cino nan dilakukan anak nagari minangkabau? bapandai-pandai lo mamak PAM ko mangatokan marantau cino kontraproduktif dengan budaya minangkabau?

Marantau cino selain merugikan kaum si laki-laki tersebut, memberikan dampak yang sama kerugiannya pada kaum istri. Karena laki-laki yang merasa tidak memiliki hak atas pusako tinggi lebih memilih untuk tetap dirantau hingga akhir hayatnya. Gejala ini yang sering disebut dalam budaya minang sebagai Marantau Cino.

Efek yang dihasilkan dari marantau cino tersebut sudah lama dirasakan oleh masyarakat minangkabau, dengan sepinya kampung halaman, banyaknya rumah-rumah yang kosong, terlantarnya sawah & ladang, sehingga perkembangan ekonomi & budaya di nagari dalam keadaaan mati suri atau jalan ditempat.

Hal ini menimbulkan fenomena baru, yaitu berpindahnya pusako tinggi kepada pihak-pihak yang lain. Seperti terjadinya penggadaian hak ulayat secara sepihak. Munculnya oknum-oknum tertentu yang memanfaatkan situasi, ditenggarai karena berkurangnya kontrol anak nagari terhadap pusako kaum. Kontrol yang semakin berkurang karena laki-laki di minangkabau enggan kembali ke kampung halaman.

Dengan begitu berhak pula laki-laki di minangkabau menetap di kampung halaman kaumnya dengan membawa anak istrinya (yang beristri non minangkabau), namun pewarisan pusako tinggi tetap pada pihak perempuan, karena pusako tinggi bersifat wakaf. Laki-laki miangkabau hanya bisa menggunakan hak pakai.

Dengan demikian peran laki-laki sebagai mamak terhadap anak kemanakan di kampung halaman bisa tetap terlaksana, sehingga keberlangsungan suatu kaum bisa tetap terjaga, berkesinambungan hingga generasi penerus. Dengan demikian apabila pola ini bisa terjaga anak-kemanakan yang berada dirantau akan tetap menjenguk orang tuanya yang menetap dikampung pada hari tuanya, sehingga tetap terjaga kecintaan terhadap kampung halaman pada generasi muda diperantauan. Dengan demikian generasi muda yang ada dirantau akan kembali ke kampung halamannya di masa tua mengganti peran mamaknya dalam menjago anak kamanakan, sako jo pusako, kaum salingka nagari.

Dengan begitu ada pola estafet dimana orang-orang minangkabau yang telah berpuluh tahun merantau bisa memberikan pengalamannya kepada generasi muda minangkabau di nagari untuk bekal menuju perantauan. Apabila hal ini dapat terjaga, selain dapat memajukan nagari juga membuat pola kaderisasi perantau-perantau muda yang siap manantang kekerasan kehidupan rantau, sehingga kaderisasi tidak pernah putus dalam budaya minangkabau.

Dengan pemikiran ini diharapkan dunsanak yang ada dirantau bisa kembali ke kampung halaman untuk meneruskan kepepimpinan kaum sebagai penghulu & sebagai mamak sehingga memberikan manfaat bagi kaumnya (anak kamanakan) dalam adat banagari & keberlangsungan silaturahim terhadap keluarga-keluarga di dalam kaum salingka nagari.

Adalah salah apabila suatu ungkapan bahwa laki-laki tidak bisa menetap di kampung halaman walaupun rumah dikampung telah kosong bertahun-tahun karena hanya perempuanlah yang berhak menempati rumah tersebut. Karena dalam ajaran islam menyia-nyiakan sesuatu itu sangat dibenci oleh Allah SWT. Semoga kerancuan yang selama ini terjadi bisa kita perbaiki di nagari masing-masing.

Kok buliah kami batanyo ka dalam hati nan paliang dalam dunsanak sakalian nan dirantau, tantu ado kainginan untuak baliak tingga di kampuang halaman sasudah panek bakureh bapuluah tahun diparantauan? Dek karano pemahaman laki-laki indak bisa mahuni rumah nan dikampuang, sahinggo niat nan samulo manjadi suruik salangkah.

Satinggi-tingginyo tabangnyo bangau
Sampai mancpai langik biru, baliaknyo ka kubangan juo
Walau bajalan jauah ka rantau
Iduik sanang satiok wakatu, Kampuang halaman takana juo

Menilik dari kondisi ini, sangat bijaksana apabila anak nagari dikampung halaman bersama anak nagari diperantauan bahu membahu memajukan kampung halaman dengan kapasitas yang dimiliki masing-masing anak nagari. Dengan tetap mengedepankan azas kebersamaan, sifat egaliter, saling menghargai satu sama lain <i>sajauh-jauh tabang bangau pulangnyo pasti kakubangan juo
sajauah jauah marantau namun kampuang ka dikana juo</i>

Barek samo dipikua, ringan samo di jinjiang
ka bukik samo mandaki, ka lurah samo manurun
Sabakek bak siriah, Sarumpun bak sarai
Satumpuak bak pinang, Sadanciang bak basi, Saciok bak ayam

Tatilantang samo minum ambun, tatungkuik samo makan tanah
Tarapuang samo hanyuik, tarandam samo basah
Tatangguak di ikan samo dikaruntuangkan,
Tatangguak di sarok samo diserakkan.

Duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang,
kato surang dibulati, kato basamo dipaiyokan

Baitulah dunsanak kurenah awak nan kiniko, baa pelaksanannyo dikampuang masing-masing elok kironyo awak sakaum barundiang basamo-samo. Tantu di zaman nan modren ko kasibukan sahari-hari tantulah manyita wakatu untuk barundiang.

Kabilo lo ado wakatu untuak barundiang? Tantu ado waktu nan tapek untuak barundiang. Pabilo ado maso pulang basamo, elok disisiahkan barapo hari untuak marundiangkan kalangsungan kaum awak masing-masing.

Kok pulang basamo awak, elok manjago tingkah jo laku. Jan banampakan bana hasia pancarian di rantau, mak tagajo hati dunsanak nan lain, nan bisa mengetekan hati dunsanak sasamo kaum. Kalau lah ketek hati sajak samulo, alah payah untuak ka barundiang mamajukan nagari awak basamo.

Dek karano sifat membanggakan adalah bibit kesombongan nan suko bana syaitan bakawan jo awak. Tantunyo dunsanak sakalian indak lo namuah sapacokian jo syaitan nan dilaknat Allah SWT hinggo akhir zaman.

Apabila ada yang baik tentunya datang dari Allah SWT,
apabila ada yang buruk tentu datangnya dari kami.
Semoga bermanfaat bagi dunsanak sakalian, amin ya Rabbal alamin.

by : Armen Zulkarnain,  penulis adalah admin Pituah Adat Minangkabau Facebook

15 pemikiran pada “Marantau Cino Kontraproduktif Dalam Budaya Minangkabau

    • namun keberlangsungan Budaya Minangkabau terpulang kembali pada anak nagarinya sendiri, baik yang di kampung halaman maupun yang di perantauan, semoga terjalin sinergi dimasa mendatang, amin ya Rabbal alamin

      ________________________________

  1. Dunsanak Armen.
    Adoh urang tuo kami maningakan pusako barupo toko dan rumah, dek dunsanak kanduang kami nan padusi katonyo harato pusako tadi jatuh ka anak padusi di Minang. Baa pandapek dunsanak Armen dan dunsanak nan lainnyo tantang kasus ko, tolong ditanggapi manuruik adat Minang jo agamo kito Islam. Tarimo kasih.

    • pak Zulkarnaini nan ambo hormati, berikut saya jabarkan pembagian harta/tanah yang berlaku di minangkabau.

      1. Harta Pusako Tinggi
      – Berasal dari warisan nenek moyang
      – Dimiliki bersama oleh seluruh kaum, baik yang laki-laki maupun perempuan
      – Pewarisannya menurut jalur ibu seperti halnya sako (suku & gelar penghulu)
      – Tidak berlaku hukum jual beli, apabila dalam kondisi yang sangat terpaksa bisa digadaikan.

      2. Pusako Randah
      Harta yang pembeliannya berasal dari hasil pusako tinggi. Setelah 3 generasi, pusako randah akan menjadi pusako tinggi, tentunya sudah disepakati bersama oleh seluruh anggota kaum.

      contoh : hasil panen padi di sawah pusako tinggi kita belikan sebidang tanah, tanah tersebut disebut pusako randah.

      3. Harta Pencaharian
      Harta yang kita peroleh dari hasil bekerja, berniaga & tidak memiliki sangkut paut (modal)dengan harta pusako tinggi. Pewarisan harta perncaharian ini sesuai dengan hukum faraid agama islam yang kita anut.

      4. Ulayat Nagari
      Tanah yang dimiliki oleh nagari, penggunaannya biasanya untuk kepentingan umum (masayarakat nagari)

      5. Ulayat Rajo
      Tanah yang berada diperbatasan antara suatu nagari dengan nagari lainnya. Batas-batas ulayat rajo ini dimusyawarahkan bersama antara ninik mamak penghulu kaum di nagari-nagari yang saling berbatasan.

      6. Harta Waqaf
      Seperti yang disebutkan dalam hukum islam.

      semoga keterangan pembagian jenis-jenis harta tersebut bisa membantu menyelesaikan permasalahan pak Zulkarnaini. Lebih & kurang ambo mohon maaf.

      salam ta’zim

  2. ambo tambahan saketek pak zulkarnaen, kalau toko tu lataknyo diateh tanah pusako tinggi mako pak zulkarnaen indak dapek pambagian doh. tapi kalau lataknyo diateh tanah nan dibali dek urang tuo pak zulkarnaen mako wajib hukumnyo saluruh anak2 dapek sasuai jo hukum waris islam (baca surat An.nisa). bagian anak laki2 duo kali anak padusi.tarimokasih.

    • pak Yulian Hasmir, saya ingin menanggapi komentar bapak tentang kalimat “toko tu lataknyo diateh tanah pusako tinggi mako pak zulkarnaen indak dapek pambagian doh”.

      Seperti yang saya sebutkan dalam penjelasan Pusako Tinggi, bahwa harta pusako tinggi ini dimiliki bersama oleh seluruh kaum, baik yang laki-laki maupun perempuan. Maksud dari kata “dimiliki” adalah dipunyai dan bisa digunakan hasil & manfaatnya baik oleh pihak laki-laki ataupun pihak perempuan.

      Dengan kata lain, toko yang diwariskan dari orang tua pak Zulkarnaini dapat dipergunakan dan dipakai hasilnya oleh seluruh anak-anak dari orang tua pak Zulkarnaini. Perbedaannya adalah, pusako tinggi ini tidak bisa pak Zulkarnaini wariskan pada anak bapak, sebab pewarisan harta pusako tinggi berdasarkan garis ibu, yaitu pada kemanakan pak Zulkarnaini (anak dari kakak perempuan & adik perempuan pak Zulkarnain, laki-laki & perempuan), semoga dipahami amin ya Rabbal alamin.

      salam ta’zim

  3. Urang nan barasa dari nagari antah barantah pun lah dipastikan ka mambela adat nan dibudayakannyo turun tamurun. Jan kan adat, agamo pun baitu. Dan kalau saandainyo urang yahudi, nasrani, dls nan ado tu lai mandapekkan hidayah dari Allah, baru urang tu mandapek kesempatan untuak mangakui kabanaran Islam. Jadi cuma hidayah Allah lah nan mampu manyadarkan urang minang dari kamunafikan nan alah mandarah dagiang salamo ko. Kanyataannyo coitu, kalau indak batantangan jo agamo, babanggakan bana bahaso adat minang basandikan kapado syarak. Tapi kok indak sasuai / kok ado nan batantanagan jo agamo, nyo bae malengah pura2 indak tau. Cimporong se gadang!…….

  4. Alhamdulillah….. ado putra Minang nanda Armen Zulkarnain,mudah2an bisa pangganti buya awak yaitu Buya Hamka yang selalu menggali ilmu Budaya Minangkabau nan ampia indak dikenal oleh masyarakat Minangkabau…. Amin.

    • Bundo Nellywaty Bahauddin, ambo indak paham bana mengenai kajian agamo, indak pulo maraso ka manggantikan alm. Buya Hamka. Hanyo manulih nan sapanjang nan ambo tahu. Tantu banyak dunsanak kito nan lain nan labiah pandai dari pado ambo, mohon ijan maanjuang talampau tinggi, indak elok beko jadinyo, wasalam.

  5. السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
    Uda Armen,
    Kami sabana batarimo kasih ka uda.
    Sasudah mambaco artikel ko, kami (nan di perantauan cino🙂 ) tasintak. Baru kini ta/ba-pikia kondisi nan di kampuang.
    Ambo cumo ka ma-ilustrasian saketek kondisi di kampuang kami:
    – Salamo ko nan lah bajalan, hak milik/hak pakai tanah jo rumah candonyo alah dikapling2 jo dunsanak kanduang amak kami (nan padusi-padusi tantunyo), nan “laweh tu” indak milik basamo lai, tapi lah bakodong-kodong dek nyia’ uci (nenek) kami dan dibagian ka anak-anaknyo nan padusi.
    Amak kami, anak padusi nan suluang, tapi rumah gadang ditinggai dek adiaknyo (etek kami). Tapi, amak kami lai diagiah tanah nan disubalahnyo, cukuik untuak tatagak rumah nan dibangun ayah kami.
    Untuak samantaro ko lai aman² sen-nyo, itu mungkin dek karano amak jo nenek kami masih ado.
    Pertanyaannyo, apo buliah bantuak itu.
    Kalau manilik jenis pusako, tanah yg sabalum dikapling² itu kan pusako tinggi.
    Ciek lai, iyo sabana tapek tulisan uda ko, sasudah babini, rasonyo, amak jo dunsanak taraso jauah (sadiah hati ko). Memang kadang² lai juo pulang, tapi indak lo bisa balamo² di rumah amak malapeh taragak, markas lah baganti ka rumah mintuo.
    Kok uda mancume’es ambo ko anak amak (anak mami, istilah kotanyo), memang co itu adonyo. hehe…

    • Sanak Intan Batuah, ambo mohon maaf baru bisa mambaleh komentar dunsanak ambo ko.

      Mengenai permasalahan nan tun, sanak ambo ko kan alah manjadi mamak pulo di kaum dunsanak. Dek karano itu diansua-ansua pulo menjalin komunikasi jo seluruh anggota kaum nan lain, sajak nan paliang tuo hinggo nan ketek.

      Dek komunikasi nan lai taruih bajalan pulo, mako indak ado kusuik nan indak ka salasai & indak ado pulo karuah nan indak ka tajaniahkan.

      Kok indak ado komunikasi (atau sabana jarang), iyo akan tajadi pulo nan indak elok, sabab badunsanak ko, bukan hanyo dek barasa dari sadarah sakaturunan sajo, namun saparinduan, saliang jalang manjalang, kaba mangabaan, tolong manolong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s