Mambasuik Dari Bumi, Manitiak Dari Langik


Ada banyak kesan yang dirasakan apabila kita menjelajahi 11 kabupaten di ranah minang. Mulai dari tampilan pemandangan yang menakjubkan, yang selalu tersimpan rapi dalam relung hati setiap perantau minangkabau hingga keramahtamahan yang selalu dijumpai dipelosok-pelosok nagari apabila kita benar-benar membuka diri & bersikap bersahabat pada masyarakat yang kita jumpai. Dari 629 nagari, yang tersebar di 135 kecamatan pada 11 kabupaten secara umum masih kental terlihat kesenjangan ekonomi sebagai pemandangan umum yang terdapat di nagari-nagari di Sumatera Barat.

Sulit dipercaya, sebagian besar tokoh-tokoh masyarakat yang menjabat wali nagari ini umumnya adalah seorang perantau & memiliki taraf pendidikan yang cukup baik, seperti tamatan perguruan tinggi. Percaya atau tidak, ada beberapa Wali nagari yang sudah mencapai jenjang pendidikan S2, malah ada mantan seorang pejabat tinggi negara yang pernah menjabat Walikota di sebuah kota pada provinsi Sumatera Barat. Tidak sedikit pula yang berasal dari kalangan organisasi, praktisi, kalangan profesional ataupun pengusaha.

Sedemikian pentingkah arti nagari di Sumatera Barat? Bukankah nagari sama dengan desa yang merupakan struktur terendah pada sistem pemerintahan yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini? Jawabannya tergantung pada sisi mana kita melihat hal itu.  Wali Nagari dalam pengertiannya mungkin hampir sama dengan kepala desa, namun esensinya sangat berbeda, sebab hanya bagian masyarakat yang memiliki sakopusako yang benar-benar memiliki kedaulatan di ranah minang.

Sedikit mundur ke belakang, setiap orang minang selalu memiliki sako dan pusako. Sako merupakan warisan yang tidak berwujud kebendaan (immaterial) tetapi sangat berperan dalam membentuk moralitas masyarakat minangkabau dan kelestarian adat budaya minangkabau. Yang termasuk sako adalah gelar penghulu (gelar kebesaran kaum), garis keturunan (suku) diwariskan secara turun temurun melalui garis ibu (matrilineal), pepatah-petitih dan hukum adat, tata krama dan adab sopan santun yang berlaku di masyarakat minangkabau.

Pusako adalah warisan yang berwujud kebendaan (material) diwariskan dari nenek moyang secara turun temurun melalui garis ibu (matrilineal) untuk digunakan sebaik-baiknya dalam  memenuhi kebutuhan setiap masyarakat di nagari yang berbentuk tanah, air, udara. Secara umum pusako dimiliki bersama-sama oleh kaum, suku & nagari diranah minang yang kelola & diawasi oleh ninik mamak penghulu kaum/suku bersama-sama pemeritahan nagari.

Dari pengertian ini dapatlah kita membuat suatu kesimpulan dimana masyarakat minangkabau sejatinya hidup bersama dalam suatu komunal, yang terbagi dari kaum, suku & nagari. Sistem komunal inilah yang bersama-sama menguasai pusako di ranah minang, sehingga bisa dilihat begitu sentralnya peran seorang Wali Nagari dalam tatanan adat dan budaya di minangkabau.

Bagaimana kalau kita tinjau dari sistem pemerintahan yang berlaku di provinsi Sumatera Barat? Disinilah terjadi beberapa hal yang memang tidak sinkron dengan adat & budaya di Minangkabau. Sebagaimana yang kita pahami, tatanan masyarakat minangkabau dalam memilih figur kepemimpinan menggunakan asas yang disebut “mambasuik dari bumi”, pilihan bersama seluruh masyarakat komunal yang disebut kaum, suku & nagari. Seorang Wali Nagari & Penghulu kaum/suku selalu dipilih secara bersama-sama didalam satuan masyarakatnya. Dimana terdapat perbedaan dengan Gubernur, Bupati atau Walikota, yang dipilih bersama-sama namun diusulkan dari lembaga partai politik yang sebenarnya tidak dikenal & dipahami dalam tatanan masyarakat minangkabau.

Menjadi pertanyaan menarik, apakah fungsionaris partai politik yang ada di Sumatera Barat memahami dengan benar adat & budaya di minangkabau? Saya kira perlu dilakukan sebuah kajian mendalam untuk itu.

Dalam strukur pemerintahan di provinsi Sumatera Barat, Wali Nagari berada dibawah otoritas seorang Camat yang membawahi sebuah nagari atau beberapa nagari. Mengapa saya sebutkan sebuah nagari, sebab masih ada saat ini  kecamatan yang terdiri dari 1 nagari, yaitu :

Kabupaten  Pasaman

  1. Nagari Panti kec. Panti

Kabupaten Pasaman Barat

  1. Nagari Sungai  Aua kec. Sungai Aua
  2. Nagari Sasak kec. Sasak Ranah Pasisie
  3. Nagari Parik kec. Koto Balingka
  4. Nagari Aia Bangih kec. Sungai Beremas
  5. Nagari Ujung Gading kec. Lembah Malintang

Kabupaten Padang Pariaman

  1. Nagari III Koto Aur  Malintang kec. IV Koto Aur Malintang
  2. Nagari Lubuk Alung  kec. Lubuk Alung

Seorang camat dipilih berdasarkan diangkat oleh bupati atau walikota atas usul sekretaris daerah kabupaten atau kota terhadap Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat untuk itu. Dan bupati ataupun walikota  dipilih dalam satu paket pasangan  melalui Pilkada. Bupati/wali kota merupakan jabatan politis, dan bukan Pegawai Negeri Sipil. Pengajuan calon bupati ataupun walikota berasal dari partai politik yang berbeda dengan sistem pemilihan Wali nagari ataupu Penghulu yang berasal dari masyarakat yang basako dan bapusako.

Apabila kita mencermati azas manitiak dari langik yang dahulunya dipegang oleh otoritas Rajo Nan Tigo Selo bersama Basa Ampek Balai, Sapihan Balahan, Kuduang Karatan, yang merupakan struktur pemerintahan yang berlaku pada Kerajaan Minangkabau, sejatinya Kerajaan ini sudah lama tidak memiliki kedaulatan sejak berkuasa pemerintahan Kolonial Belanda dimana pewaris kerajaan ini yaitu Sultan Tangkal Alam Bagagar bersama 19 orang pemuka adat lainnya ikut menandatangani perjanjian penyerahan kedaulatan kepada kolonila  Belanda tanggal 10 Februari 1821 dalam upaya melawan perjuangan kaum Ulama (Padri) di minangkabau.

Saya kira ini menjadi sebuah pekerjaan rumah yang harus kita pikirkan ke depan bersama-sama sebagai anak kemanakan yang memiliki sakopusako dimanapun berada. Adalah hal yang mesti dilakukan untuk mengupayakan komunikasi 629 pemerintahan nagari & seluruh Kerapatan Adat Nagari  di Sumatera Barat, bersama-sama pemerintahan daerah Sumatera Barat di 11 Kabupaten & 7 Kota untuk merumuskan secara bersama-sama konsep terbaik otonomi daerah yang bisa diterapkan dimasa mendatang di ranah minangkabau.

Sakali aie gadangsakali tapian barubah & Sumatera Barat terlihat sedang meraba-raba tepian baru di era otonomi.

oleh : Armen Zulkarnain

Penulis sempat berkunjung dengan ratusan Wali Nagari & Penghulu ketika melakukan 2 kali perjalanan menjelajahi Sumatera Barat,  pertama kali selama 6 hari, 19 -24 Juli 2010 & yang kedua selama 13 hari, 23 November 2010 – 5 Desember 2010.

3 pemikiran pada “Mambasuik Dari Bumi, Manitiak Dari Langik

  1. Mantap bana Pak Men, lah paralu pulo kito pikiakan baacaronyo suatu saat nanti Bupati kito piliah bukan berdasarkan usulan dr Partai Politik tapi dr dari Kerapatan Adat yang ado di Nagari – Nagari

  2. Ping balik: Mambasuik Dari Bumi, Manitiak Dari Langik « Adat Budaya Minangkabau

  3. pak Datuak, untuak itu paralu dilakukan komunikasi nan rutin antaro KAN dimasing-masing nagari. Kendala nan aktual terjadi dilapangan adolah, KAN nan ado di nagari-nagari sadang baserak-serak indak jaleh ujuang pangkanyo. Nan ambo mukasuik adolah, banyak terjadi di nagari-nagari sako pangulu ko talipek sekian tahun (bahkan puluhan tahun).

    Kok ado cukuik langkok pangulu-pangulu nan ko, jarang pulo berkomunikasi antaro sesama anggota KAN. Berbagai macam kendala, antaro lain tampek bamukim nan saliang bajauhan, sabab banyak pulo pangulu ko nan bamukim dirantau. Iko baru komunikasi dalam suatu nagari sajo.

    Nan disampaikan oleh pak Datuak berkaitan komunikasi antar nagari per nagari.

    Sabananyo, perkembangan IT bisa membantu masalah komunikasi iko, saroman komunikasi antaro ambo jo pak Datuak kini. Sabab itu, memang paralu ditaruko baliak jalinan komunikasi antar nagari-nagari di ranah minang.

    wasalam

    http://www.facebook.com/Ayo.Bangun.Nagari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s