Periode Perang Padri


Masa Perang Paderi dapat dikelompokkan menjadi:
A. 1803 - 1833: Masa konflik perjuangan Kaum Paderi dengan Kaum Adat
B. 1833 - 1838: Masa Perjuangan Kaum Paderi & Kaum Adat menentang Kolonialisasi Belanda

Penjelasan
A. 1803 - 1833: Masa konflik perjuangan Kaum Paderi dengan Kaum Adat

Konflik dimulai 1803 oleh serangan kaum Paderi yang digerakkan oleh Harimau Salapan, dipimpin Tuanku Nan Renceh. Pemberontakan diakhiri dengan pembuangan Sultan Baggagarsyah, Raja terakhir Kesultanan Minangkabau Pagarruyung, oleh Kerajaan Belanda, dan
Kerajaan Pagarruyung dianeksasi dalam NEI (Netherland East Indies). 

Masa ini dapat dikelompokkan lagi menjadi:
1. 1803 - 1815: Masa penghancuran Pagarruyung.
Pada masa ini gerombolan Wahabi Paderi menaklukkan satu-persatu wilayah Pagarruyung. Puncaknya adalah pembantaian Penghulu dan Keluarga Kerajaan dalam perundingan damai di Koto Tangah. Tuanku Raja Alam Muningsyah III, Raja Alam ke-31 gugur, digantikan sementara waktu oleh
Pemangku Raja Alam, Raja Garang Tuanku Sembahyang III (Sumpur Kudus). Dengan selesainya penaklukan wilayah Pagarruyung, Kaum Paderi memulai invasi ke Utara. 

2. 1815 - 1821: Masa invasi ke Tanah Batak (Tingki ni Pidari I).
Pada masa ini Kaum Paderi menginvasi Batak Selatan, mendirikan benteng pendudukan di Rao dan Dalu-dalu sebagai basis serangan. Segera setelah pendudukan Batak Selatan, dilakukan serangan ke Batak Utara. Masa invasi ke Tanah Batak berakhir dengan ditandai wabah kolera dan
dimulainya kampanye militer koalisi Hindia Belanda-Pagarruyung untuk merebut wilayah Minangkabau. 

3. 1821 - 1833: Masa Peperangan Paderi dengan Kolonial Belanda
Pada masa ini koalisi Hindia Belanda-Minangkabau merebut kembali seluruh wilayah Minangkabau kecuali dua benteng daerah pedalaman di Bonjol & Dalu-Dalu.
Masa ini diakhiri oleh aneksasi Kerajaan Belanda atas Kerajaan Minangkabau dengan cara menangkap dan membuang Tuanku Raja Hitam - Tuanku Raja Alam Bagagarsyah, Raja Alam ke-33, dengan demikian mengakhiri sejarah Kerajaan Minangkabau. Ditandai pula dengan jatuhnya benteng Rao oleh pasukan gabungan Belanda-Mandailing, sehingga benteng praktis Bonjol terisolasi.
Masa ini diakhiri oleh penandatanganan Plakat Panjang tahun 1933 oleh Belanda & Paderi. 

B. 1833 - 1838: Masa Peperangan Kaum Paderi & Kaum Adat dengan Kolonial Belanda
Pada masa ini sisa-sisa pejuang Paderi yang bertahan di Benteng Bonjol (jatuh Agustus 1837) dan Dalu-dalu (jatuh Desember 1938) ditumpas oleh Belanda. Tuanku Imam Bonjol menyerah pada Belanda (sesuai pengakuannya dalam catatan pribadi Tuanku Imam Bonjol), sedang Tuanku Tambusai mengungsi ke Malaysia
About these ads

Posted on April 23, 2011, in Rangkuman. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Da Men, link Pituah Ayah Untuak Calon Pangulu 3 yang Da Men latak-an di 4shared error Da Men, bisa mintak tolong di upload ulang filenyo Da Men?. Tarimo kasih banyak, mohon maaf komennyo ndak berkaitan dengan artikelnyo, walaupun ambo lah baco.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: